Akhiri Epidemi Merokok dengan Pendekatan Pengurangan Risiko
- Dok. VIVA.co.id
VIVA Jakarta – Epidemi merokok masih menjadi tantangan kesehatan global di berbagai negara. Meski sejumlah negara telah menerapkan berbagai kebijakan pengendalian tembakau, prevalensi merokok pada laki-laki di berbagai negara masih berkisar antara 15 persen hingga 40 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa pendekatan pengendalian tembakau belum cukup untuk menurunkan jumlah perokok.
Hal ini mendorong diskusi di kalangan akademisi dan pembuat kebijakan mengenai perlunya cara lain yang lebih efektif, termasuk melalui pendekatan tobacco harm reduction (THR) atau pengurangan risiko tembakau bagi perokok dewasa.
Dalam jurnal bertajuk "Beyond a Smoke-Free Generation: Ending Smoking Within a Generation" yang juga diterbitkan di The Lancet, peneliti Ruth Bonita dan Robert Beaglehole menegaskan, mencegah perokok baru tidak cukup sebagai upaya menanggulangi epidemi merokok.
Menurut keduanya, kebijakan pengendalian tembakau juga perlu memprioritaskan percepatan penurunan jumlah perokok dewasa. Salah satu caranya adalah mendorong peralihan dari rokok yang dibakar ke berbagai produk nikotin dengan profil risiko yang lebih rendah, seperti rokok elektronik, produk tembakau yang dipanaskan, dan kantong nikotin.
“Jika tujuannya adalah mengakhiri epidemi merokok, maka kebijakan pengendalian tembakau global perlu memprioritaskan percepatan transisi dari konsumsi rokok menuju ke produk nikotin alternatif yang terbukti memiliki tingkat risiko lebih rendah, khususnya bagi kelompok orang dewasa yang menanggung beban besar akibat dampak kesehatan tembakau, khususnya di negara-negara berkembang,” tulis Ruth Bonita dan Robert Beaglehole, dikutip Rabu (2/9/2026).
Ilustrasi perokok dewasa yang coba beralih ke produk tembakau alternatif.
- Istimewa/AI
Ruth Bonita adalah seorang akademisi kesehatan publik asal Australia-Selandia Baru yang merupakan profesor emeritus di Universitas Auckland. Sebelumnya, ia dianugerahi gelar Officer of the New Zealand Order of Merit atas jasanya di bidang kedokteran. Sedangkan Robert Beaglehole adalah seorang dokter kesehatan masyarakat, ahli epidemiologi, dan mantan direktur di Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) asal Selandia Baru.
Bonita dan Beaglehole berpendapat bahwa kebijakan pengendalian tembakau perlu beradaptasi dengan perkembangan bukti ilmiah dalam satu dekade terakhir. Makin banyak penelitian yang menunjukkan bahwa produk nikotin tanpa pembakaran memiliki risiko kesehatan lebih rendah, serta berpotensi membantu perokok dewasa beralih dari kebiasaan merokok. Perkembangan bukti ilmiah tersebut dinilai membuka peluang bagi pendekatan THR untuk menjadi bagian penting dalam strategi mempercepat berakhirnya epidemi merokok.