Jurnalisme Profetik, Muhammadiyah harus Menjadi Top of Mind
- PSIB UMM
VIVA Jakarta – Di era digitalisasi saat ini, pengetahuan terkait agama dalam publikasi media harus lebih memiliki jiwa. Maka, media-media terutama yang berafiliasi Muhammadiyah, dihiarapkan tetap menerapkan jurnalisme profetik. Tidak saja dalam rangka menjaga kualitas informasi, tapi juga menjadikan Muhammadiyah sebagai top of mind di tengah-tengah publik.
Hal tersebut ditegaskan oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof Nazarudin Malik. Itu disampaikannya saat memberi arahan dan membuka Kajian Islam Multidisipliner (KIM) Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) UMM, Jumat kemarin 9 Oktober 2026.
“Islam jangan ekslusif. Media Muhammadiyah harus jadi lokomotif gerakan tajdid bahwa Islam hadir dalam kehidupan,” kata Nazarudiin.
Rektor UMM Prof Nazarudin Malik di Kajian Islam Multidisipliner PSIP UMM tentang Jurnalisme Profetik
- PSIB UMM
Jelang Tanwir dan Milad Muhammadiyah ke-144, Rektor Nazarudin mengaku bahwa tim materi Muktamar sudah menyiapkan Risalah Kesemestaan Muhammadiyah. Di mana dalam risalah itu juga diulas problematika kekinian, serta bagaimana organisasi yang didirikan KH Ahmad Dahlan ini menyikapinya. Termasuk terkait media digital, Artificial Intelligent (AI), hingga keseimbangan alam semesta.
“Saya ingin posisi PSIB sangat strategis untuk menjadi sampul depan UMM tentang kemajuan pemikiran Muhammadiyah,” harap Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur ini.
Publikasi Dakwah Muhammadiyah
Dalam Kajian Islam Multidisipliner (KIM) Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) UMM, hadir dua narasumber. Yakni Wakil Ketua Majlis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah, Dr Roni Tabroni, dan Ketua Departemen Humas dan Kerjasama PP Nasyiatul Aisyiyah, Maharina Novia Zahro. Diskusi dipandu dosen Ilmu Komunikasi FISIP UMM, Widiya Yutanti.
Menurut Maharina, dalam hal publikasi sebenarnya Muhammadiyah termasuk kurang. Hal ini lantaran organisasi yang didirikan pada 1912 itu terlalu disibukkan dengan prinsip yang penting bekerja.
Meskipun dalam era digitalisasi terutama saat ini, bekerja dan memdiakan kegiatan pada prinsipnya sama-sama penting. Dia menilai, harus ada narasi yang dibangun agar hasil kerja yang dilakukan Muhammadiyah benar-benar sampai ke masyarakat. Menurutnya ini bukan pamer, tetapi sebagai prinsip PR-ing organisasi.
“Dakwah perlu menularkan kebaikan,” tegas Kepala Humas UMM tersebut.
Membangun citra Muhammadiyah yang baik, lanjut Maharina, tidak boleh selesai pada aksi-aksi yang terlihat. Tetapi nilai-nilai Muhammadiyah itu bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.