Waspada Ruang Digital di Layar Gawai Bisa Jerat Anak-anak

Poster larangan telepon selular di depan ruang kelas
Sumber :
  • Antara

VIVA Jakarta – Ruang digital di dalam layar gawai bisa jadi sebuah jebakan berkedok rayuan dan ajakan dengan tujuan untuk mengeksploitasi atau melakukan kekerasan seksual yang menyasar anak-anak. Hal tersebut telah menjadi ancaman nyata dan warga Ibu Kota harus waspada karena potensi risiko para buah hati semakin besar seiring mudahnya akses teknologi.

img_title Komdigi Ingatkan Risiko Algoritma Media Sosial bagi Anak Pengguna Gawai

Kerap disebut child grooming, salah satu bentuk kekerasan yang menyasar anak ini merupakan proses manipulasi oleh orang dewasa dengan membangun kedekatan emosional, membangun kepercayaan terhadap anak, sehingga kontrol mereka terhadap anak menjadi lebih besar.

Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (DPPAPP) DKI Jakarta melalui Unit Pelaksana Teknis Perlindungan Perempuan dan Anak (UPT PPA) mengakui child grooming umumnya dapat terjadi secara langsung maupun melalui ruang digital (online grooming).

img_title DPR Dorong Masyarakat Lebih Kritis Bermedia Sosial, Hoaks Bisa Picu Konflik

Pelaku tidak selalu terlihat jahat. Dia biasanya akan membangun kedekatan terlebih dahulu dengan korban, lalu membangun kepercayaan, diikuti memberi perhatian, atau bahkan memberi hadiah atau iming-iming.

Setelah kedekatan terbangun, dia muncul melakukan isolasi-isolasi terhadap anak. Pelaku bahkan bisa memaksa korban mengirim foto atau video intim, lalu diancam.

img_title 24 Jam Tak Tidur, Surya Saputra Kejar Ekspresi Natural untuk Adegan Paling Emosional

"Biasanya mereka mengkondisikan seolah-olah anak dan remaja, yang menjadi sasarannya, tidak punya cara untuk meminta bantuan segera karena kontrolnya berada di tangan pelaku tersebut, sehingga adanya ketidakseimbangan relasi kuasa," ujar Tenaga Ahli Psikolog Klinis Pusat Perlindungan Perempuan dan Anak Provinsi DKI Jakarta Meinita Fitriana Sari.

Di Jakarta, usia remaja menjadi usia paling rentan menjadi korban child grooming, karena remaja cenderung memulai membangun relasi dengan banyak pihak.

Remaja lebih banyak berinteraksi dengan teman sebaya dibandingkan dengan keluarganya. Di sinilah, dia harus mempunyai kemampuan untuk bisa menyaring relasi yang sehat dan tidak sehat.

Di sisi lain, remaja dan bahkan anak-anak saat ini juga sudah terpapar teknologi digital baik itu media sosial maupun game online dan ini menempatkan mereka pada risiko terkena online grooming.

Di era AI ini, Polda Metro Jaya mengingatkan ancaman terhadap anak bisa lebih berbahaya. Pelaku menggunakan AI untuk menyamar identitas, memanipulasi foto atau video dan karenanya anak bisa jadi lebih mudah percaya dan terjebak.

Halaman Selanjutnya
img_title