Polemik Surat Tempo ke Agrinas Tuai Beragam Respons Publik
- Dok. Istimewa
VIVA Jakarta –Perdebatan mengenai surat penawaran kerja sama pemasangan iklan yang diajukan Tempo Media Group kepada PT Agrinas Pangan Nusantara terus bergulir.
Setelah Tempo menyampaikan klarifikasi terkait mekanisme pemisahan divisi bisnis dan redaksi, tanggapan dari berbagai kalangan masih bermunculan dan memicu diskusi mengenai transparansi serta potensi konflik kepentingan di industri media.
Salah satu respons datang dari penggiat media sosial Silvia Tjan. Menurutnya, polemik yang berkembang bukan semata-mata berkaitan dengan ada atau tidaknya pemisahan antara kepentingan bisnis dan redaksi, melainkan menyangkut konsistensi standar independensi yang selama ini diklaim media tersebut.
“Tempo mengatakan iklan tidak membeli berita. Oke. Tapi justru karena Tempo mengklaim memiliki benteng independensi, standar yang dipakai seharusnya lebih tinggi dibanding media pada umumnya,” kata dia, Sabtu (25/7/2026).
Silvia menilai publik tidak memiliki akses untuk mengetahui secara langsung bagaimana mekanisme pemisahan antara kepentingan bisnis dan redaksi diterapkan di internal perusahaan media. Karena itu, menurutnya, penilaian masyarakat hanya dapat didasarkan pada apa yang terlihat di ruang publik.
“Publik tidak tahu bagaimana diskusi di dalam redaksi berlangsung. Yang bisa dinilai hanyalah apa yang terlihat dari luar,” ujarnya.
Menurut Silvia, situasi tersebut menjadi perhatian karena di satu sisi Tempo menjalankan fungsi sebagai media yang mengawasi pemerintah maupun badan usaha milik negara, sementara di sisi lain divisi bisnisnya juga menawarkan kerja sama kepada institusi yang menjadi objek pemberitaan.
“Apakah itu otomatis melanggar etik? Belum tentu. Tapi apakah itu menimbulkan potensi konflik kepentingan yang layak dipertanyakan? Jelas iya,” tulisnya.
Ia juga menyoroti argumentasi Tempo yang menyatakan bahwa pemasang iklan tidak dapat memengaruhi independensi redaksi. Menurutnya, persoalan yang diperdebatkan publik bukanlah adanya transaksi yang secara langsung membeli pemberitaan, melainkan kemungkinan munculnya pengaruh yang bersifat tidak langsung.
“Memangnya ada orang yang secara terang-terangan mengatakan ingin membeli redaksi? Tidak ada. Persoalannya justru pada pengaruh yang lebih halus, seperti akses, hubungan, kedekatan, hingga pertimbangan bisnis. Hal-hal seperti itu mungkin tidak terlihat, tetapi dapat memengaruhi persepsi publik.”