Komdigi Ingatkan Industri Televisi: Jangan Kalah Kreatif dari Content Creator

Peningkatan Kapasitas Jabatan Fungsional Penyiaran TVRI
Sumber :
  • Dok. Komdigi

VIVA Jakarta – Industri televisi di Indonesia kini ditantang keras oleh hadirnya konten digital dari para kreator individu maupun kelompok. Masyarakat semakin dimanjakan dengan beragam tontonan di ruang digital, sehingga stasiun TV dituntut lebih kreatif agar tak ditinggalkan penonton.

img_title DJKI Buka Peluang Investasi Paten, Investor dan Industri Diajak Berburu Inovasi Lokal!

Plt. Direktur Ekosistem Media Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Farida Dewi Maharani, menegaskan bahwa industri televisi tak bisa lagi berjalan dengan pola lama.

“Industri TV tidak bisa lagi business as usual. TVRI misalnya sebagai lembaga penyiaran milik pemerintah, bersaingnya tidak lagi dengan MetroTV, TVOne, KompasTV, tapi bersaing dengan content creator yang jumlahnya lebih banyak,” ujar Farida dalam kegiatan Peningkatan Kapasitas Jabatan Fungsional Penyiaran dalam Pemanfaatan Artificial Intelligence di Bali, dikutip Jumat, 29 Agustus 2025.

img_title Ibas Bertemu Ketua DPR Australia, Perkuat Diplomasi dan Kerja Sama Bilateral

Farida mendorong agar setiap lembaga penyiaran, khususnya TVRI, mengandalkan riset dalam menyusun program acara. Menurutnya, pemahaman terhadap minat publik akan menentukan apakah sebuah tayangan mampu menarik perhatian.

“Kita harus based on research untuk mengambil perhatian publik. Apa sih mau publik, senengnya apa, harus kita pelajari,” tambahnya.

img_title Komdigi Ingatkan Risiko Algoritma Media Sosial bagi Anak Pengguna Gawai

Lebih jauh, ia menekankan pentingnya kualitas sumber daya manusia (SDM) di tubuh TVRI. Sebagai media milik pemerintah, TVRI harus tampil unggul, kredibel, dan menjadi rujukan informasi nasional bersama kantor berita ANTARA.

“Peningkatan kapasitas fungsional SDM TVRI merupakan investasi strategis bagi masa depan TVRI dan bangsa Indonesia,” tegasnya.

Pada kesempatan yang sama, Head Product Tempo Digital, Rianda Zulhamjani, menyoroti penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) di dunia penyiaran. Menurutnya, etika harus tetap dijunjung tinggi agar teknologi hanya berfungsi mempercepat distribusi informasi tanpa merusak integritas jurnalistik.

“Karena inti dari penyiaran adalah kepercayaan masyarakat. Kepercayaan publik menjadi modal utama. Sekali publik merasa ditipu, masa trust akan hilang. Masyarakat berhak tahu apakah konten dibuat manusia atau AI,” ujar Rianda.

Sementara itu, Tenaga Ahli Komdigi sekaligus Creative Advisor, Motulz Anto, mengingatkan bahwa teknologi selalu membawa dua sisi.

“Ia (teknologi) bisa menjadi mandaat namun juga bisa menjadi mudarat,” katanya.

Kegiatan yang diselenggarakan Komdigi ini bertujuan memperkuat kapasitas pejabat fungsional penyiaran TVRI. Fokusnya pada penguasaan keterampilan teknis, kemampuan produksi, hingga literasi digital yang semakin relevan di era pemanfaatan AI.