Jombang Jadi Tuan Rumah Lagi, Warga Berharap Muktamar NU Tak Berujung Deadlock seperti 2015

Ilustrasi persiapan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang, Jawa Timur.
Sumber :
  • AI

VIVA Jakarta - Persiapan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di kawasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, mulai terasa di tengah aktivitas masyarakat. 

img_title NU Masuk Abad Kedua, Gus Yahya Ungkap Perubahan Besar: Digitalisasi hingga AI Jadi Andalan

Kedatangan ribuan Nahdliyin dari berbagai daerah diperkirakan ikut menggerakkan perekonomian warga, mulai dari perdagangan hingga jasa.

Di balik peluang ekonomi tersebut, warga Jombang juga menyimpan harapan agar pelaksanaan muktamar kali ini berlangsung aman, tertib, dan tidak kembali diwarnai kebuntuan seperti yang terjadi dalam Muktamar ke-33 NU pada 2015.

img_title Jelang Munas dan Konbes NU 2026, Masyayikh Pasang Alarm: Jangan Jauhkan NU dari Pesantren

Warung dan usaha warga di sekitar lokasi mulai bersiap menghadapi meningkatnya aktivitas selama rangkaian muktamar. Sejumlah masyarakat bahkan melihat momentum tersebut sebagai peluang untuk mendapatkan tambahan penghasilan melalui penyewaan rumah, perdagangan, hingga berbagai jasa yang dibutuhkan para peserta.

Namun, persiapan menyambut ribuan peserta juga dibayangi ingatan terhadap dinamika Muktamar ke-33 NU yang digelar di Jombang pada 1-5 Agustus 2015.

img_title Menag Masuk Bursa Caketum PBNU, Punya Jejak jadi Katib Aam Seperti Gus Dur dan Said Aqil

Salah seorang warga sekaligus kader NU, Supriyanto (48), yang akrab disapa Yanto, masih mengingat ketegangan yang terjadi dalam forum tersebut. Saat itu, perdebatan mengenai tata tertib, termasuk penerapan sistem Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) dalam pemilihan Rais Aam, membuat persidangan berlangsung alot.

Situasi bahkan sempat berujung pada skorsing sidang setelah serangkaian interupsi. Ketegangan kemudian meningkat hingga terjadi aksi saling dorong dan pengusiran peserta dari arena persidangan.

Pengalaman tersebut membuat Yanto berharap Muktamar ke-35 NU tidak mengulang persoalan serupa.

“Saya khawatir deadlock dan molor seperti 2015,” kata Yanto, Minggu, 22 Agustus 2026.

Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Yanto tinggal di Tambakrejo, kawasan yang berada tidak jauh dari lokasi muktamar. 

Menurut dia, dinamika forum organisasi akan turut memengaruhi suasana masyarakat di sekitar lokasi, meski warga tidak terlibat langsung dalam persidangan.

Warga, kata Yanto, tentu ingin memberikan sambutan terbaik kepada para muktamirin yang datang dari berbagai daerah. Namun, mereka juga berharap seluruh rangkaian agenda berjalan sesuai jadwal tanpa terganggu konflik internal.

“Muktamar seharusnya menjadi ruang untuk mempertemukan pikiran dan mencari jalan keluar, bukan mempertontonkan pertentangan yang berlarut-larut,” ujarnya.

Halaman Selanjutnya
img_title