Satu Abad NU: Dari Pesantren Besar hingga Penopang Moderasi Beragama

Acara Peringatan satu abad Nahdlatul Ulama di Istora Senayan, Jakarta.
Sumber :
  • Istimewa

VIVA Jakarta - Organisasi Islam terbesar di Tanah Air, Nahdlatul Ulama (NU) akan mulai memasuki perjalanan abad kedua. Perjalanan panjang NU selama satu abad bukan sekadar catatan sejarah, melainkan proses pendewasaan organisasi yang terus berkontribusi bagi umat dan bangsa Indonesia.

img_title NU Masuk Abad Kedua, Gus Yahya Ungkap Perubahan Besar: Digitalisasi hingga AI Jadi Andalan

Demikian disampaikan Menteri Agama (Menag) sekaligus Rais Syuriyah PBNU, Nasaruddin Umar. Menurut dia, NU sudah buktikan ketangguhannya menghadapi dinamika zaman.

“Seratus tahun perjalanan PBNU bukanlah waktu yang pendek. Di sinilah NU menunjukkan kematangannya sebagai sebuah organisasi keagamaan dan kebangsaan,” kata Nasaruddin dalam peringatan satu abad Nahdlatul Ulama di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu 31 Januari 2026.

img_title Jombang Jadi Tuan Rumah Lagi, Warga Berharap Muktamar NU Tak Berujung Deadlock seperti 2015

Nasaruddin juga menyampaikan hadis yang diriwayatkan Abu Daud dan An-Nasa’i, bahwa Allah SWT akan mengutus pada setiap akhir 100 tahun seorang tokoh ulama yang memperbarui pemahaman keagamaan umat.

Peringatan satu abad Nahdlatul Ulama di Istora Senayan, Jakarta.

Photo :
  • Istimewa

img_title Pengacara Yaqut Pertanyakan Uang USD 271.500 Dolar AS di Dakwaan KPK: Dasarnya Apa?

Dia menilai, NU sudah mengambil peran strategis dalam pembaruan substansi ajaran Islam yang relevan dengan perkembangan zaman.

Menurutnya, NU pada hakikatnya senagai pesantren besar yang menjadi pusat dinamika keilmuan Islam. Dia bilang tradisi diskusi di lingkungan pesantren disebut sangat kuat. Bahkan, kata dia, kerap diwarnai perdebatan antarmazhab fikih.

“Kadang diskusinya sangat panas, tetapi itulah bukti kuatnya tradisi keilmuan di pesantren,” jelas Nasaruddin. 

Lebih lanjut, dia menyampaikan pesantren dan NU merupakan dua entitas yang tak bisa dipisahkan. Keduanya saling menopang dan memperkuat satu sama lain. Bagi dia, tradisi adab santri terhadap kiai menjadi fondasi penting dalam menjaga keharmonisan. Meski terjadi perbedaan pendapat. 

“Seorang santri tetap sangat menghormati kiai, walaupun berbeda pendapat. Inilah kekuatan moral NU,” tutur Nasaruddin.

Lebih lanjut, dia menggambarkan NU sebagai keluarga besar yang penuh dinamika. Tapi, tetap mampu merawat kebersamaan.

Bahkan, menurut dia, NU punya daya rangkul yang kuat terhadap pihak luar sehingga merasa menjadi bagian dari keluarga besar NU. “NU ke depan akan menjadi wadah kekuatan besar bagi bangsa Indonesia,” katanya.

Pun, dia juga menyoroti tantangan yang akan dihadapi PBNU dan warga Nahdliyin ke depan. Menurut dia, perubahan zaman yang bergerak lebih cepat dari kesiapan manusia, bisa memicu cultural shock dan economic shock.

Halaman Selanjutnya
img_title