Iran-AS Kembali Memanas, Pasar Teheran Justru Bertaruh pada Perdamaian

Ilustrasi konflik Amerika Serikat (AS) vs Iran.
Sumber :
  • Istimewa/AI

VIVA Jakarta - Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali meningkat di tengah proses negosiasi yang masih berlangsung melalui mediator. Meski kedua pihak terus berupaya mencapai kesepahaman, situasi di lapangan menunjukkan perdamaian masih jauh dari kepastian.

img_title Iran Ancam Balas Negara yang Ikut Tekanan AS, Selat Hormuz Masih Jadi Titik Panas

Manuver militer AS yang kembali menyerang Iran di dekat Selat Hormuz jadi sorotan dunia.

Militer AS mengklaim telah menyerang lokasi peluncuran rudal dan kapal-kapal Iran yang disebut tengah berupaya memasang ranjau di perairan selatan negara tersebut. Sementara itu, media pemerintah Iran melaporkan bahwa pasukan mereka melakukan serangan balasan dan mengeklaim adanya korban jiwa akibat eskalasi terbaru itu.

img_title Iran Pertimbangkan Serang Aset Militer AS di Eropa Jika Trump Kembali Eskalasi Konflik

Kendati demikian, gencatan senjata rapuh yang berlaku sejak 8 April sejauh ini disebut masih bertahan dan belum benar-benar runtuh.

Dari laporan Al Jazeera, di tengah situasi yang penuh ketidakpastian, pasar keuangan di Teheran justru menunjukkan optimisme terhadap kemungkinan tercapainya kesepahaman dengan Washington. Mata uang rial Iran dilaporkan menguat lebih dari lima persen sepanjang pekan ini dan diperdagangkan di kisaran 1,73 juta rial per dolar AS pada Selasa pagi.

img_title AS Ubah Strategi Hadapi Iran, Pilih Tekanan Ekonomi Setelah Perundingan Terhenti

Penguatan juga terjadi di pasar saham. Indeks utama Bursa Efek Teheran kembali menembus angka 4 juta poin setelah sebelumnya sempat anjlok akibat gelombang protes nasional dan meningkatnya ancaman perang dalam beberapa bulan terakhir.

Namun, di balik penguatan pasar, tekanan terhadap ekonomi Iran masih sangat besar. Pemerintah menghadapi dampak dari salah urus ekonomi domestik serta tekanan eksternal dari AS, termasuk blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan selatan Iran.

Situasi diperparah dengan memburuknya hubungan Iran dan Uni Emirat Arab, yang sebelumnya jadi salah satu jalur impor utama bagi Teheran. Ketegangan meningkat setelah serangan rudal Iran ke wilayah UEA selama konflik berlangsung.

Kondisi tersebut mulai dirasakan langsung oleh pelaku usaha di Teheran. Seorang pedagang produk elektronik di pusat kota mengaku pasokan barang kini semakin tidak menentu.

“Pasokan masih diragukan setidaknya untuk beberapa bulan ke depan, jadi tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di pasar,” kata seorang pedagang toko telepon seluler dan produk digital di Teheran kepada Al Jazeera.

Ia menambahkan, kenaikan harga dan keterbatasan stok membuat konsumen semakin sulit mendapatkan barang dengan spesifikasi yang sama seperti sebelumnya.

“Kita melihat bagaimana harga membuat pelanggan berubah pikiran, tetapi bukan hanya harga; Anda mungkin tidak menemukan laptop yang Anda lihat tersedia seminggu yang lalu dengan spesifikasi yang sama hari ini,” katanya.

Pemerintah Iran kini disebut lebih fokus memastikan ketersediaan kebutuhan pokok seperti makanan dan obat-obatan agar krisis tidak berkembang menjadi kekurangan barang secara nasional. Meski belum ada laporan krisis pangan besar, lonjakan harga terus memperburuk kondisi masyarakat.

Inflasi tinggi, kerusakan industri akibat perang, serta pemadaman internet berskala nasional turut memperdalam tekanan ekonomi. Banyak warga kehilangan pekerjaan setelah akses internet global dibatasi hampir total dalam beberapa waktu terakhir.

Media pemerintah Iran melaporkan bahwa Presiden Masoud Pezeshkian telah memerintahkan persiapan pemulihan internet global setelah pemadaman nasional terpanjang yang pernah terjadi di negara itu. 

Namun hingga Selasa, pembatasan internet masih diberlakukan karena belum ada keputusan resmi dari Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.

Kekhawatiran masyarakat terhadap masa depan pun semakin besar. Seorang pensiunan insinyur konstruksi bernama Dariush mengaku kondisi tanpa kepastian saat ini sangat mengkhawatirkan.

“Apa pun yang dapat mengakhiri keadaan tanpa perang, tanpa perdamaian, dan tanpa jejak masa depan yang jelas saat ini akan disambut baik. Jika ini terus berlanjut, akan sangat menghancurkan,” kata Dariush kepada Al Jazeera.