Menkomdigi Ingatkan Algoritma Dapat Percepat Penyebaran Radikalisme
- Dok. Kementerian Komdigi
Alexander juga menyoroti permainan digital sebagai salah satu jalur masuk penyebaran paham radikal. Melalui gim daring, anak-anak dapat berkenalan dengan pengguna lain, bergabung dalam grup percakapan tertutup, lalu terpapar diskusi mengenai kekerasan, terorisme, hingga berbagai bentuk kejahatan.
“Ruang digital menjadi sarana untuk menyebarkan radikalisasi. Dari permainan, mereka berdiskusi, masuk ke kelompok tertutup, kemudian membicarakan berbagai kejahatan dan tindakan kekerasan,” ujarnya.
Senada dengan itu, Juru Bicara Densus 88 Antiteror Polri Mayndra Eka Wardhana mengatakan pihaknya mendeteksi adanya perubahan pola perekrutan kelompok ekstrem yang kini semakin memanfaatkan berbagai platform digital. Anak-anak dan remaja dinilai menjadi kelompok yang rentan karena umumnya lebih akrab dengan teknologi dibandingkan orang tua mereka.
“Kami mendeteksi bahwa memang terjadi pergeseran pola perekrutan. Berbagai platform digunakan oleh pelajar, anak-anak, dan remaja. Algoritma memiliki peran amplifikasi yang sangat besar,” kata Mayndra.
Menurutnya, penanganan terorisme tidak cukup hanya melalui penegakan hukum karena persoalan tersebut memiliki akar ideologis. Upaya pencegahan perlu dilakukan melalui edukasi, kontra narasi, deradikalisasi, serta kolaborasi lintas kementerian, lembaga, pemerintah daerah, keluarga, sekolah, media, dan platform digital.
Pelaksana Tugas Sekretaris Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Ratna Susianawati, juga mengingatkan bahwa anak merupakan kelompok yang paling rentan dalam proses transformasi digital.
“Teknologi digital bagi anak ibarat pisau bermata dua. Anak-anak harus dibekali agar dapat memanfaatkan teknologi secara aman, nyaman, dan bijak sesuai batas usianya,” kata Ratna.
Ia menilai propaganda menjadi salah satu metode utama yang digunakan jaringan ekstrem. Oleh karena itu, keluarga perlu menjaga komunikasi yang terbuka, memahami aktivitas digital anak, dan tidak menyerahkan seluruh proses pengasuhan kepada perangkat maupun platform digital.
Sementara itu, Kriminolog Siber Kisnu Widagso mengatakan kejahatan di ruang siber tidak berhenti di dunia virtual, tetapi dapat berdampak langsung terhadap kehidupan nyata.
“Kejahatan memang terjadi di dunia siber, tetapi dampaknya bukan hanya di ruang siber. Dampaknya juga terjadi di dunia nyata,” katanya.
Menurut Kisnu, anonimitas, enkripsi, dan ruang percakapan tertutup memberikan peluang bagi pelaku untuk menjalankan aksinya. Selain itu, algoritma juga dapat membentuk echo chamber yang membuat pengguna hanya menerima informasi sejenis sehingga narasi ekstrem perlahan dianggap sebagai sesuatu yang normal.